Pendidikan yang me-Merdekakan

 

Photo and text by : Christina Arum, Bali-Indonesia

“ Dimana hati diletakkan, disitulah proses belajar dan  maju dimulai .” Romo Mangunwijaya. 

Yang pertama kali melintas di kepala saya mengenai Sekolah Dasar yang pada umumnya di Indonesia, yaitu Gedung yang bercat merah dan cream, gerbang sekolah dengan  lapangan upacara. Tapi ketika saya datang kesana, saya sedikit terkejut karena yang saya jumpai sama sekali berbeda dengan apa yang saya pikirkan. Di Pinggiran jalan besar, ada plang kecil bertuliskan SDKE Mangunan dan jalan kecil menuju kesana. Layaknya sebuah perkampungan, saya hanya menjumpai mural di tembok rumah bertuliskan nama SD tersebut, dan beberapa bangunan berwarna-warni, indah dan ekspresif. Dan ternyata itu adalah ruang kelas dari SDKE Mangunan. SD yang terletak  di Jalan Solo KM 12, Mangunan Kalitirto Berbah menyewa rumah-rumah penduduk di perkampungan yang sudah tidak terpakai dan dibuat menjadi ruangan untuk sarana kegiatan belajar mengajar.

Murid SDK Mangunan

 

Sejarah awal mulanya sekolah ini berdiri adalah, karena keprihatinan Romo Mangunwijaya, seorang biarawan dan penulis yang telah mendapat banyak penghargaan tentang kemanusiaan baik di Indonesia maupun di dunia international.

Beliau mengkritisi sistem pendidikan selama orde baru yang dianggapnya telah memangkas kreativitas dan perkembangan jiwa anak didik dalam menumbuhkan karakter pada dirinya. Romo Mangun menilai bobroknya system pendidikan dikarenakan system pemerintahan yang berkuasa pada saat itu tidak menempatkan hakekat pendidikan pada tujuan pendidikan itu sendiri tapi lebih kepada berbagai kepentingan baik kepentingan politis atau kepentingan bisnis yang menguntungkan pihak tertentu saja. Beliau menekanan, untuk memperbaiki system pendidikan yang sudah terlanjur bobrok ini, lebih baik dimulai dari sistem pendidikan dasar. Beliau menganalogikan, jika membangun rumah tapi pondasinya tidak kuat maka rumah tersebut akan gampang rubuh. Pendidikan dasar dianggap sebagai pondasi dalam pendidikan. Untuk itu pembenahan dilakukan mulai dari SD. Romo Mangun membentuk Yayasan Dinamika Edukasi Dasar  pada tahun 1986 untuk menyusun metode pendidikan, modul dan membina tenaga pendidik yang akan diterapkan pada SD Eksperimental Mangunan ini. SD Mangunan ini pada awalnya adalah SD Kanisius yang yang hampir ditutup karena kekurangan murid, untuk itu pada tahun 1994 SD ini diambil alih dan digunakan Romo Mangun  mengimplementasikan metode belajar yang sudah dirumuskan oleh tim nya di Dinamika Edukasi Dasar.

Hasil Kreasi Anak-anak SDK Mangunan

Sewaktu saya mencoba masuk dan mengikuti proses belajar di kelas – kelas, saya merasa kaget bercampur kagum. Anak-anak SD di sini tidak memakai seragam, dan setingan kelas pun benar-benar berbeda dengan kebanyakan SD di tempat lain, yang kaku, serba terib dan seragam. Yang saya lihat malah setingan ruang kelas disitu sama dengan kelas-kelas di Sekolah International yang mana kita harus membayar puluhan sampai ratusan juta untuk bersekolah di situ.  Yang paling Nampak berbeda adalah meja dan kursi yang digunakan. Meja dan kursi yang digunakan tidak terlalu besar dan mudah di pindah-pindah sesuai kebutuhan belajar mengajar. Ruangan pun didominasi oleh warna-warni khas anak-anak dan karya – karya mereka. Dan juga barang-barang yang digunakan kebanyakan berasal dari barang – barang disekitar yang sudah tidak terpakai yang dikreasi menjadi barang – barang yang berguna dan menarik.

Ruang Belajar

Selain bentuk fisik yang dan penataan ruangan yang khas, sekolah ini juga mempunyai metode pembelajaran yang berbeda dengan yang lain. Romo Mangun (alm.) merumuskan beberapa mata pelajaran khas, yaitu kotak pertanyaan, membaca buku bagus, musik pendidikan dan komunikasi iman. Setiap pelajaran khas tersebut mempunyai metode dan tujuan masing-masing Yang pertama, kotak pertanyaan yaitu kotak yang dipasang di setiap kelas yang akan menampung pertanyaan – pertanyaan berupa keingintahuan anak-anak didik tentang apapun yang mereka jumpai. Setiap 1 minggu sekali, kotak tersebut akan dibuka dan pertanyaan – pertanyaan anak-anak akan dibahas oleh teman – teman mereka dengan diarahkan oleh guru mereka. Tujuan dari kotak pertanyaan itu sendiri adalah untuk menjawab rasa keingintahuan anak didik tentang hal-hal disekitarnya. Yang kedua membaca buku bagus, untuk metode ini sangat terlihat bahwa Romo Mangun ingin sekali anak didiknya gemar membaca, maka setiap minggu dari DED memilihkan satu buku yang bertemakan tentang kemanusiaan, pengetahuan dan tokoh-tokoh yang menginsipirasi yang akan dibacakan oleh guru pendamping dengan melibatkan seluruh siswa, jadi mereka seperti memainkan peran tokoh – tokoh yang ada di dalam buku, dan setelah membaca akan ada tugas yang berhubugan dengan buku tersebut. Yang ketiga adalah music pendidikan, di dalam pelajaran ini anak akan diajarkan kecintaan nya terhadap seni terutama musik, mereka akan membuat irama dari barang – barang di sekitar mereka. Yang terakhir adalah mata pelajaran Komunikasi Iman, sekali lagi saya menemui hal yang berbeda di sekolah ini. Di Sekolah ini tidak diajarkan pelajaran Agama, melainkan komunikasi iman. Dalam pelajaran ini akan diajarkan hal – hal yang membangkitkan empati dan rasa saling toleransi tanpa harus terkotak – kotak oleh ajaran yang dogmatis.

Proses Belajar

Selama disana saya melihat proses belajar mengajar yang memerdekakan anak untuk berekspresi, bertanya tanpa rasa takut dan mempunyai empati yang tinggi terhadap sesama. Dengan melihat metode pembelajaran diatas anak akan mempunyai karakter sesuai yang ingin ditumbuhkan oleh sekolah ini yaitu, kreatif, komunikatif, eksploratif dan integral Setiap kelas terdiri dari 25 siswa, rata-rata separuh lebih berasal dari warga sekitar, diutamakan orang miskin dan anak jalanan, setiap kelaspun di bisa menerima 2 atau 3 anak berkebutuhan khusus. Uang sekolah yang dibayarkan pun relative, tergantung kemampuan ekonomi anak tersebut. Sumber belajar yang digunakan tidak jauh dari lingkungan sekitar, seperti sungai, rel kereta api, kebun dan rumah penduduk disekitar situ. Misalnya jika anak ingin mengetahui fungsi alat-alat dapur, maka ia pun harus meminta ijin di rumah warga disitu untuk masuk ke dapurnya dan menanyakan secara langsung fungsi-fungsinya. Siapapun bisa menjadi sumber belajar, seperti yang diyakini Romo Mangun kalau semua orang adalah guru. Kesimpulan yang bisa saya ambil selama penelitian saya, bahwa proses belajar disini benar-benar proses belajar yang mengikuti kemampuan tumbuh kembang anak, dengan konsep pendidikan yang humanis, anak mendapat hak nya sebagai anak seiring dengan pemekaran jiwanya.

membaca peta bola dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>